The Soul of Ponorogo

2 Responses to “The Soul of Ponorogo”

  1. dikala aku masih remaja.suka keselahung dengan kereta uap ke gunung loreng kamping 3hari dengan makan sampek sambal terasi nikmat banget.apalagi sambil menikmati matahari terbit indah sekali, diujung mata memandang melihat petani menanam singkong.
    sekarang cah ponorogo punya komonity semoga bisa rukun dan bisa nenjalin hubungan sesama wong ponorogo.
    saya sedih melihat ponorogo itu setiap saya pulang pasif hanya begitu2aja.industri mati, bahkan nyaris disebut kota tkw/ttki semoga dengan adanya Comunity ini bisa membangun kominikasi dengan orang2ponorogo yang ada diperantatauan.Sebenarya ponorogo banyak yang digali walaupun penghasil singkong,pohon nilam,jeruk pulung bisa kita kembangkan.coba kita tengo,berapa dari tukang ojeg/becak, sampai jendral ada diperantaaun.dan ada yang ahli segala disiplin ilmu.tapi mereka engan pulang keponorogo.paling hanya lebaran saja, saya punya usul pemegang pemerintahan bapak bupati coba hubungi beliau untuk mengumpulkan orang2 ponorogo yang ada diperantauan.untuk mmbangun ponorogo yang sesuai dengan misi dan visinya. yang akhirnya merubah dari predikat kota tki menjadi ponorogo yang maju tidak tergantung pada pusat

    Masukan yang sangat bagus mas.. sebenarnya saya juga sedih.. yup.. paling tidak kita sudah berusaha semaksimal mungkin dengan apa yang kta bisa, walaupun begitu m,emang kita semua harus mencari solusi termasuk mereka 9bupati dan jajarannya0 harus lebih ari dan kreativ…

    salam

  2. Artikel dll. kurang siiippppppppp, jelek dan menjemukan buat kontributor yang bener dong

    Maturu suwun saranipun,..

    Klo gitu kapan mas aries, mo berkontribusi??? ditunggu…

Leave a Reply